Putus sekolah akibat pandemi, Lebih dari 24 Juta Anak di Dunia Putus Sekolah

  • Bagikan
Anak putus sekolah akibat pandemi

Situasi pandemi COVID-19 mengubah semua aspek kehidupan di dunia. Setiap orang mulai beradaptasi dengan kebiasaan baru akibat penularan virus corona yang masih terus meningkat. Tak hanya sektor perekonomian saja, pandemi mempengaruhi sistem pendidikan di Indonesia. Berdasarkan data dari UNICEF, lebih dari 24 juta anak putus sekolah akibat pandemi di seluruh dunia.

Data anak putus sekolah akibat pandemi

Menurut Henrietta Fore, ada sekita 192 negara yang telah mengeluarkan kebijakan belajar dari rumah selama masa pandemi. Setidaknya ada 1,6 miliar siswa di dunia belajar tidak langsung atau memanfaatkan media online. Banyak sekolah yang menganti pertemuan tatap muka langsung dengan sistem virtual. Ada sekitar 870 juta jiwa yang belum bisa kembali ke sekolah yang diprediksi bakal kesulitan kembali belajar ke sekolah. Dari angka tersebut, Fore memprediksi sekitar 24 juta anak putus sekolah akibat pandemi corona.

  1. Kekurangan belajar virtual selama pandemi

Perkiraan anak putus sekolah akibat pandemi corona bukan tanpa alasan yang jelas. Terdapat beberapa kekurangan belajar virtual selama pandemi yang harus mendapatkan evaluasi pemerintah yaitu

  1. Kekurangan fasilitas pendidikan virtual

Berdasarkan data di dunia, UNICEF menyebut ada sekitar 460 juta anak yang tidak memiliki fasilitas pendidikan virtual yang memadai. Tidak ada akses komputer, internet dan perangkat seluler yang bisa mendukung sistem belajar lebih produktif.

Related Post :   Pentingnya Metode Belajar Montessori Untuk Anak
  1. Menghabiskan lebih banyak data atau kuota

Meski pemerintah memberikan subsidi data atau kuota pada pelajar, akses internet yang sulit membuat orangtua pelajar harus mengeluarkan uang lebih banyak. Tidak menutup kemungkinan anak-anak tidak bisa akses internet karena kekurangan biaya.

  1. Materi pembelajaran yang lebih sulit

Belajar online tanpa tatap muka atau diskusi lebih lanjut bisa menyebabkan anak-anak kurang memahami pembelajaran. Hal ini berlaku untuk anak-anak yang masih duduk di bangku SD hingga jenjang lebih tinggi. Adu pendapat yang sulit dipecahkan bisa menjadi kekurangan belajar online.

  1. Tugas menumpuk

Anak-anak merasa tugas dari guru semakin menumpuk dan menciptakan stress. Tidak hanya orang dewasa saja yang wajib mengelola stress, namun anak-anak memiliki masalah yang sama.

Berbagai kekurangan belajar online selama pandemi mengakibatkan anak-anak menjadi tidak bisa belajar optimal. Anak putus sekolah akibat pandemi bisa terjadi bila pemerintah tidak segera mencari solusi terbaik. UNICEF meminta pihak pendidikan dan kesehatan bekerja sama dengan baik agar bisa memastikan pembukaan sekolah yang aman dalam waktu dekat.

  • Bagikan